Selendang, adalah alat untuk menggendong (mengemban) anak / bayi. Ini bermakna bahwa para pembina mahir yang menggunakan selendang mahir laksana orang yang mengemban tugas suci menyiapkan dan mengantar generasi muda ke arah / tempat / tujuan yang diharapkan.

UKURAN SELENDANG (5 dm x 1945 mm) bermakna bahwa dalam mengemban amanat dimaksud harus senantiasa berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945.

Warna dasar WULUNG (Ungu) pada selendang melambangkan keuletan, ketekunan, serta disiplin diri. Ini mengandung maksud bahw Pembina Mahir harus ulet, tekun, dan disipkin dalam berkarya / menggeladi generasi.

LIDAH API –sebagai motif selendang– melambangkan semangat yang tak kunjung padam atas keinginan untuk senantiasa menata diri dalam bingkai Satya dan Darma Pramuka (3 lidah api dan jumlah kelipatan 10 dari obor).

Simbol JANTUNG bermakna bahwa selama jantung masih berdetak di dada, seorang Pembina Mahir harus selalu dan tetap mengabdikan diri dengan moto Ikhlas Bakti Bina Bangsa Ber Budi Bawa Laksana.

Senjata / Keris mengandung makna bahwa seorang Pembina Mahir harus memiliki sumber daya, pemikiran yang selalu tajam dan cara berpikur yang kritis, serta tanggap dengan lingkungannya.

Terakhir, bentuk “KANTONG” pada ujung lipatan selendang bermakna bahwa seorang Pembina Mahir harus mampu menampung aspirasi peserta didik dan masyarakat di sekutarnya untuk kemudian dicarikan solusi / jalan keluarnya.

Selamat Berbakti wahai para Pembina Mahir…!